Atasi Masalah Hoax, Facebook Lakukan Ini

Sadarkah kamu bahwa ada yang berbeda dengan aktivitas di media sosial dalam beberapa bulan belakangan ini? Terutama pasca maraknya pemilihan umum yang terjadi di Indonesia maupun Amerika.

Munculnya berbagai berita bohong yang tidak jelas kebenarannya (hoax) adalah salah satu perbedaan tersebut. Entah darimana datangnya, fenomena hoax hadir untuk mengacaukan pikiran dan pendapat terkait kasus-kasus menarik yang terjadi belakangan ini di dunia.

Beberapa kasus terjadi di Negeri Paman Sam, Amerika. Pasca kampanye yang terjadi antara Hillary Clinton dan Donald Trump belakangan ini, berbagai media di negara tersebut kerap memberitakan kejadian yang tidak bisa dijelaskan keabsahannya.

Fenomena ini rupanya turut terjadi di Indonesia. Berbagai kejadian di Tanah Air, kerap diberitakan tidak sesuai dengan faktanya. Opini masuk ke dalam berita tersebut dan membuat isi berita menjadi senjata untuk memecah belah persatuan bangsa.

Hampir serupa dengan yang dialami masyarakat Amerika saat masa kampanye, fenomena hoax hadir bersamaan dengan proses pemilihan kepala daerah yang terjadi serentak di Indonesia pada beberapa waktu lalu. Hal ini dipercaya beberapa pihak dilakukan secara sengaja untuk menjatuhkan beberapa pihak yang dirasa bisa memenangkan suara rakyat.

Maraknya berita bohong seperti ini sampai hingga ke beberapa media sosial seperti Facebook. Media sosial asuhan Mark Zuckerberg ini kerap dijadikan sebagai senjata yang tepat untuk menyebarkan informasi bohong kepada masyarakat.

Jika kamu melakukan pengamatan pada media sosial Facebook dalam beberapa bulan belakangan ini, tentu kamu tidak asing dengan fenomena yang saya maksudkan. Bermodalkan paket internet atau pulsa pada ponsel pintar, para pengguna Facebook sudah bisa mengakses berita-berita tersebut dengan mudah.

Awalnya saya sempat menjadi korban berita-berita bohong tersebut. Akibat banyaknya teman yang membagikan suatu berita, saya lantas menjadi percaya. Padahal saya sendiri belum melakukan verifikasi dan pengecekan ulang berita tersebut.

Pernah suatu hari saya kehabisan paket internet karena terlalu asyik membaca berita-berita tersebut. Saya pun rela menggunakan saldo di ponsel saya, hanya untuk melakukan pengecekan apakah berita tersebut bohong atau benar adanya. Sayangnya, karena membuka berbagai data berita yang berat, saya pun kehabisan saldo.

Pasca kejadian tersebut, saya mulai mengatur penggunaan saldo dan paket data internet di ponsel saya. Demi irit pulsa dan kuota internet, saya pun membeli paket internet seminggu sekali. Saya pikir akan lebih mahal, namun nyatanya tidak sama sekali.

Saya membelinya melalui layanan online di aplikasi terbaru Traveloka. Harga yang ditawarkan oleh layanan ini ternyata sangat jauh lebih murah dibandingkan dengan harga gerai penjual umumnya. Sehingga, pembelian paket data internet yang saya lakukan berulangkali, tidak terasa mahal.

Saat semua ‘alat perang’ sudah saya kerahkan, barulah saya bisa maksimal mencari tahu apa sebenarnya yang membuat fenomena ini terus terjadi, bahkan hingga saat ini. Namun, seiring pencarian saya tersebut, saya menemukan berita bahwa Facebook turut menentang peredaran berita hoax yang berpotensi menyesatkan pikiran penggunanya.

Rupanya Facebook melihat hal ini sebagai sesuatu yang buruk. Itulah mengapa Facebook turut mengecam tindakan penyebaran berita hoax dengan menggunakan beberapa cara.

Meski Facebook belum sepenuhnya bisa memberantas berita bohong yang masuk ke News Feed layanan ini, namun Facebook telah mencoba beberapa cara berikut ini untuk mengatasi fenomena hoax, yakni:

  1. Peringatan ‘Dispute’
    Dispute adalah bentuk peringatan yang diberikan Facebook terhadap konten berita yang dirasa pembaca bisa membuat perselisihan. Dengan peringatan ini, menandakan berita tersebut masih harus mendapatkan pengecekan ulang. Tanda tersebut nantinya akan disertai dengan tautan menuju situs web yang bisa digunakan untuk mencari fakta.Peringatan ini dilakukan Facebook setelah melakukan kerjasama dengan organisasi International Fact Checking Code. Organisasi ini mampu melakukan identifikasi laporan sensasional dan tidak mengutamakan fakta. Konten seperti ini dipastikan tidak bisa mendapatkan keuntungan dari iklan.
    traveloka1                                                         Sumber gambar: tekno.kompas.com
  2. Mempermudah laporan pengguna
    Jika kamu sadar, saat ini kamu bisa dengan mudah melakukan pengaduan kepada Facebook melalui fitur pelaporan di sudut kanan atas tampilan layar. Fitur ini sudah pernah saya gunakan saat mendapatkan berita-berita bohong, terutama melaporkan pihak-pihak yang menyebarkan konten tidak seronok.
  3. Mempertahankan berita benar di linimasa
    Guna mendukung pemberantasan hoax, Facebook memaksimalkan penyebaran konten yang disukai pengguna Facebook. Caranya dengan menempatkan berita-berita baik dan menyenangkan pada tampilan linimasa penggunanya. Hal ini memang masih sebatas rencana, namun selanjutnya Facebook akan menggunakan cara ini untuk meminimalisir penyebaran berita

Nah, Facebook saja sudah berupaya untuk memberantas hoax yang menyesatkan. Lantas, bagaimana dengan kita sebagai pengguna media sosial? Baiknya kita lebih bijak dan pintar untuk menyaring suatu informasi sebelum membagikannya kepada khalayak ramai di media sosial, ya.

 

Related Posts

Add Comment